Home arrow Kolom Merta Ada arrow Di Media arrow - Kesaksian tentang Kesadaran dan Kesembuhan (bag I)
- Kesaksian tentang Kesadaran dan Kesembuhan (bag I) PDF Print E-mail

Dikutip dari: Harian Kompas, Minggu 09 Mei 1999 (bag I)


 PADA setiap hari terakhir meditasi tapabrata yang ia selenggarakan, Merta Ada memberi kesempatan kepada peserta meditasi untuk menyampaikan kesaksian atas apa yang telah dialami selama menjalani olah meditasi maraton selama sepekan itu.

Selama sekitar tiga menit, pendengar kesaksian mendengar pengalaman yang sangat beragam. Secara umum, menyangkut berbagai penyakit yang selama ini dikeluhkan, kebanyakan peserta menyatakan mengalami perubahan positif. Tetapi dari forum ini pula ketahuan, bentuk keluhan yang coba dicarikan jalan keluarnya lewat meditasi jauh lebih beragam daripada sekadar sakit badan biasa. Ada yang ingin lepas dari kecanduan rokok, obat-obatan, sulit bicara di depan umum, ingin pulih dari duka yang mendalam, ingin bisa berdoa secara lebih khusyuk, ingin bisa punya anak, terbebas dari rasa berdebar-debar, dan sebagainya.

Seminggu yang tidak mudah. Selama proses pembongkaran pribadi ini, peserta tampaknya diekspos pada keadaan yang mungkin "esktrem". Redaktur senior Femina Rani Moediarta yang sempat mengikuti proses ini dalam meditasi yang dibimbing Prof Suryani di Mega Mendung Februari lalu menuturkan, saat dibawa trance, ada peserta yang menyumpah-nyumpah marah, ada yang mendengus lirih, dan ada pula yang menangis tersedu-sedu, mungkin dilanda keharuan yang meluap.

Pengamatan serupa juga dilakukan wartawan harian ini saat mengikuti meditasi di padepokan Anand Ashram beberapa waktu lalu. Ada peserta yang terhanyut dalam keharuan mendalam, yang membuatnya terisak-isak. Sementara seorang peserta lain terdengar jatuh bergulingan.

Tampaknya teknik yang diterapkan telah dapat membuat peserta menjadi sensitif, dan seiring dengan itu juga mengungkapkan gejala yang pasti ada penjelasannya, meski penjelasan itu bisa jadi bermuara pada kejadian di masa lampau, atau yang memorinya terpendam jauh di dasar jiwa.

***
MUNGKIN banyak yang pernah membaca pengantar Krishnamurti menyebut bahwa meditasi "merupakan salah satu hal yang paling luar biasa, dan apabila orang tidak tahu apakah meditasi itu, ia diibaratkan seorang tunanetra di tengah kemilaunya dunia warna-warni dan bayang-bayang serta geraknya cahaya."

Setelah mendengar tentang hal itu, sebagian yang datang dan ikut meditasi secara jujur mengatakan, ia ikut hanya sekadar ingin tahu. Tak jarang pula orang yang menyimpan keragu-raguan untuk menengok, atau menerjuninya. Pertimbangan agama termasuk yang acap disebut. Kalau bukan dugaan, bahwa meditasi bisa mempengaruhi keyakinan-hal yang disanggah tegas Merta Ada maupun Anand Krishna-keraguan timbul karena kesertaannya akan kurang efektif karena ia mungkin harus mengikuti bacaan yang berbeda dari agama yang dianutnya.

Keraguan ini pupus setelah melihat sosok-sosok figur meditasi yang dalam konsep dan visinya menerobos dinding yang memisahkan individu berdasar agama. Penggunaan nafas sebagai basis perhatian oleh Merta Ada, penelusuran historikal atas kebajikan yang diajarkan para nabi dan rasul oleh Anand Krishna, juga pendekatan akademik yang diperkaya dengan dimensi sosio-kultural oleh Prof Suryani, membantu memupus keraguan yang muncul. "Setelah saya tahu Prof Suryani juga seorang pskikiatris, saya tak ragu untuk mengikutinya," ujar Rani.

Pluralitas yang tampak pada setiap sesi tapabrata Merta Ada, atau paket meditasi Anand Krishna jelas amat menggembirakan mereka, karena memang itulah yang mereka harapkan terjadi. Munculnya kedamaian pertama-tama dari lingkup individu, namun kemudian akan lebih berarti manakala lingkup itu dapat diperluas, bukan saja Indonesia, tetapi bahkan dunia.

***
KEDAMAIAN (peace) yang coba dicapai melalui meditasi barangkali hanya secercah pengalaman. Tetapi kedamaian pikiran (peace of mind), seperti ditulis dalam meditasi Brahma Kumaris, adalah satu jalan hidup.

Untuk mencapai jalan hidup ini, kebetulan bisa merupakan kenyataan. Tining Amalia Suryani, seorang mahasiswi murid Merta Ada, sudah lama mengidamkan bisa mengembangkan diri, dan ingin dirinya lebih siap menghadapi tantangan hidup. Tetapi ia mengaku tak tahu jalan apa yang paling tepat. Satu pagi hari, ia menonton tayangan wawancara Merta Ada di satu stasiun televisi swasta, dan ia pun mendapatkan jalan itu.

Retno menemukan motivasi lain lagi. Ia sedikit-banyak sudah mendengar tentang reiki dan kemampuannya untuk menyembuhkan. Ketika ia tahu Anand Krishna menawarkan paket itu, ia pun mencobanya. Setelah itu ia sempat melihat daya yang ia peroleh bekerja untuk ayahnya yang sakit. Setiap kali ayahnya gelisah, ia mengobatinya dengan reiki yang ia pelajari, lalu ayahnya segera tertidur nyenyak. Tetapi kini-setelah sekian waktu tak melatihnya-ia tak yakin lagi apakah kemampuan yang sempat diperolehnya masih ada atau tidak, meski ia mendengar kemampuan itu akan terus melekat pada dirinya.

Namun bagi yang sudah menemukan jalan, dan lalu merasakan kenikmatannya, meditasi menjadi adiktif. Nyonya Roswitha Komar Ishak, peserta tapabrata Merta Ada yang sudah cukup makan asam garam dalam meditasi, telah demikian menggandrungi kegiatan ini hingga tekun melakukannya dua kali sehari setiap kali selama satu jam. Ini pengalaman yang kurang lebih sama dengan pengalaman seorang wanita peserta yang semula sakit dengan benjolan di perut-sakit yang membuatnya turun dari tempat tidur saja sulit-namun kini merasakan tertolong dengan berlatih meditasi. Ibu ini pun lalu bermeditasi tiga kali sehari.

Sebagaimana diuraikan dalam tulisan utama di halaman ini, meditasi pun menawarkan beragam metode dan pendekatan. Bagi peminat seperti Arman RS atau Roswitha Komar Ishak, semua itu bak aneka jalan yang bisa dicoba ditelusuri, sebelum akhirnya merasakan pas dengan salah satu di antaranya.

Meditasi saat ini tengah dilirik. Khasiatnya ada dalam latihan tekun dalam kesunyian dan keheningan. Di tengah masa krisis, mungkin saja ia dilihat sebagai sandaran alternatif. Apa pun mulanya, siapa tahu ia bukan fenomen yang mudah sirna tersaput angin. Mengetahui kebaikannya, biarlah sebanyak mungkin masyarakat memetik buahnya, hingga-seperti disebut Anand Krishna-akan terlahir individu-individu yang dapat menjadi berkah bagi masyarakat di mana ia tinggal. (nin)