| Obsesi Cemas |
|
|
|
|
TAHUN 2004 akan segera kita tinggalkan. Dalam melangkah ke tahun 2005, untuk mengisi lembaran baru kehidupan kita, menarik untuk menyimak pengalaman "Sis" di bawah ini. Tersengal-sengal – Sis di Jawa Tengah (juga buat Mr X yang sebenarnya sehat) Mbak Lei, hidup saya (47) seperti terbelenggu, sukar bergerak sebab berbagai perasaan cemas yang ada dalam diri saya. Saya sering sekali merasa cemas sebelum melakukan sesuatu. Kalau akan pergi ke pertemuan sosial, beberapa minggu sebelumnya saya sudah merasa cemas. Bagaimana nanti dalam pertemuan itu. Kalau orang lain pergi dengan keluarganya, saya harus datang sendiri, apakah tidak janggal? Orang akan bilang apa? Saya harus bilang apa? Bagaimana kalau semua mata akan tertuju pada saya? Saya akan merasa malu, merasa aneh. Bagaimana kalau saya merasa sakit di sana? Berhari-hari sebelumnya saya sudah tersiksa sampai tidak bisa tidur dan bisa jadi sakit betulan. Sebelum memberi kuliah, berhari hari sebelumnya saya sudah merasa cemas. Padahal, itu sudah saya lakukan selama 9 tahun. Terpikir bagaimana kalau saya tidak dapat melakukannya dengan baik? Bagaimana kalau kuliah saya tidak menarik? Sudah ketinggalan zaman? Bagaimana kalau terasa membosankan? Bagaimana kalau ada yang bertanya dan saya tidak dapat menjawabnya? Bagaimana kalau saya sakit perut? Bagaimana kalau ada yang menertawakan saya? Apakah saya orang aneh? Bagaimana kalau tiba- tiba saya pingsan? Memikirkan ini semua membuat saya berdebar-debar sampai tersengal-sengal, keluar keringat dingin, dan tidak bisa tidur. Biasanya kuliah dapat berlangsung biasa saja, bahkan ada yang bilang baik. Mungkin itu hanya basa basi saja ya Mbak Lei? Kalau ada teman yang pernah menyakitkan hati, sukar sekali saya lupakan meski dia pernah baik kepada saya. Juga kalau hendak pergi ke mana saja, saya merasa serba salah. Merasa orang akan memerhatikan saya. Bagaimana orang akan menilai saya? Apakah pakaian saya tidak memble, tidak norak, tidak pantas? Kalau pergi pagi-pagi, apa yang akan dikatakan orang nanti? Kalau pergi siang sudah panas, orang bilang apa? Apalagi malam hari. Saya tersiksa sekali kalau kebetulan harus pergi malam hari meskipun itu untuk membeli obat. Mbak Lei, rasa cemas ini tidak hanya sesaat, tetapi terasa terus-menerus, sampai tidak dapat tidur, sering sakit-sakitan. Saya juga merasa badan saya tidak punya potongan bagus, agak kendur, tidak langsing. Duh Mbak Lei saya merasa tersiksa…. Halo Sis, Tersiksa sekali hidup Anda sebab harus berulang kali menderita sebelum kejadian itu terjadi. Bagai terpasung dalam cengkeraman cemas. Sampai kesehatan Anda ikut menderita, tekanan darah meloncat, kurang tidur, dan sering sakit. Pikiran tidak enak yang diputar ulang ratusan kali, yang biasanya semakin lama semakin jelek, sudah membuat tubuh Anda jadi "pabrik stres". Sang ginjal dipacu buat mengeluarkan berbagai hormon siaga yang memaksa darah mengalir lebih cepat, otot menegang, napas bagai diburu sampai tersengal-sengal yang membuat tekanan darah naik, dan sukar tidur. Sebetulnya rasa cemas ini normal saja. Setiap orang mengalaminya meski kadarnya berbeda-beda. Bahkan, rasa cemas itu sebenarnya berguna sebab membuat orang terpacu buat bekerja lebih gigih agar tidak jeblok hasilnya. Tetapi, kalau rasa cemas itu sangat berlebihan, justru akan menjadi penghambat sebab merasa tidak berdaya, merasa terperangkap dalam kecemasannya sendiri. Nah dalam taraf ini mulai gawat. Apalagi kalau sudah menjadi kebiasaan. Sebenarnya tiap orang bebas buat mengatur jalan pikirannya sendiri akan berpikir ke hal-hal yang buruk atau yang baik?
Kalau malu datang sendiri, carilah teman wanita untuk pergi bersama ke pertemuan itu. Kalau takut kuliah membosankan, carilah cara–cara yang dapat membangkitkan perhatian para mahasiswa. Buatlah contoh-contoh konkret yang meliputi kehidupan mereka. Juga ajukan pertanyaan-pertanyaan pada mereka buat memikirkan contoh yang konkret atau cuma mau mengecek pikirannya ada dalam kuliah atau tidak. Kalau takut "ketinggalan zaman", bacalah hasil penelitian dan jurnal ilmiah baru tentang topik yang akan Anda kuliahkan.
Rasa cemas sering kali diikuti rasa tidak berdaya alias "malas" melakukan sesuatu. Jangan terlena dalam ketidakberdayaan itu, tapi ambillah pensil dan catat apa yang mencemaskan dan cari jalan keluarnya sebanyak mungkin. Pilih yang terbaik dan uraikan secara mendetail. Lalu, ini yang terpenting: lakukanlah itu! Misalnya, kalau butuh teman perempuan buat diajak ke pertemuan sosial yang "mencemaskan" itu, tulislah nama-nama mereka, nomor teleponnya, atau e-mailnya dan hubungilah mereka.
Pikiran tidak enak itu bagai ragi, yang menggelembungkan ketidaknyamanan kian kemari. Jangan berikan izin pikiran jelek itu memenuhi kepala Anda. Kalau sudah terbaca pesannya dan mulai berlarut-larut, katakanlah stop. Biasanya realitas tidaklah seburuk yang Anda bayangkan. Ada contoh kecil dari seorang terapis yang sebelumnya adalah penderita obsesi cemas kelas berat. Namanya Lucinda (dalam bukunya: From Panick to Power, 1995). Dia paling takut naik kapal terbang. Karena ingin mengalahkan rasa takut, dia beranikan diri naik juga. Pada awalnya keadaan baik-baik saja. Sampai suatu saat sang pilot mengingatkan para penumpang bahwa dalam 17 menit pesawat akan menabrak kantong- kantong turbulence dan akan terjadi goncangan. Para penumpang diminta mengenakan sabuk pengaman, para pramugari diminta duduk di tempat masing-masing. Mendengar pengumuman itu, Lucinda tercekam dalam kecemasan. Ia mengatakan, "Itu adalah 17 menit terlama dalam hidupku." Dia merasa sial betul naik pesawat udara itu. Bagaimana kalau pesawat jatuh? Dia akan hancur berkeping-keping dengan badan pesawat. Bagaimana nasib anak-anaknya? Anak-anak akan telantar…. Ratusan pikiran negatif memenuhi kepalanya sampai dia sukar bernapas dan sakit perut. Dia lihat penumpang lain tenang-tenang saja. Ada yang mendengkur, ada yang mengunyah makanan, ngobrol, bahkan mengetik di komputer. "Lho mengapa mereka bisa tenang?" tanya dia. Kemudian dilihatnya tanda sabuk pengaman dapat dilepaskan kembali. Sudah 24 menit. Dia bertanya pada pramugari, "Kapan guncangannya?" "Oh sudah lewat, Anda mau minum apa?" Apa? Mengapa tidak ada goncangan? Jadi, buat apa semua ketakutan dan penderitaan saya? Di situlah dia sadar sekali bahwa ia sendirilah yang membuat dirinya menderita. Jadi, buat apa pikiran-pikiran jelek itu dipelihara, yang sudah membuat diri sendiri tersiksa?
Ini bukan hanya menyehatkan isi kepala, juga menyehatkan tubuh dan pergaulan sosial Anda. Daripada mengingat kejelekan sikap teman, lebih baik mengingat kebaikannya. Bahwa dia pernah menolong Anda, bahwa mungkin sikap ketusnya itu sudah pembawaan dia, bukan spesial buat Anda. Pemikiran positif ini membuat sikap Anda lebih simpatik yang menarik simpati pula. Pikiran yang baik-baik akan menenangkan hati dan merangsang pembuatan berbagai hormon yang menenangkan pula. Membuat tubuh lebih sehat, lebih tahan terhadap penyakit, sikap lebih menawan, dan awet muda. Bersyukurlah masih ada atap di atas kepala kita, yang dapat menahan hujan dan terik matahari, masih ada yang dapat dimakan, badan masih sehat dan banyak lainnya lagi.
Jangan mendera diri Anda dengan berbagai kegagalan, keburukan, dan kemungkinan jelek. Bukankah Anda juga punya banyak kualitas yang baik-baik? Anda jujur, mau bekerja keras, cerdas (kalau tidak masak diminta mengajar di universitas), panca indera masih baik, tidak buta mata dan buta hati. Meski rambut sudah mulai dua warna, tetapi tidak gundul dan seterusnya.
|









