Home arrow Artikel arrow Lain-lain arrow Asal-Usul (Suka Hardjana)
Asal-Usul (Suka Hardjana) PDF Print E-mail

 Para fatalis percaya bahwa nasib adalah sebuah suratan hidup yang tak terelakkan. Nasib itu takdir. Takdir itu fatal. Oleh karena itu tak terelakkan. Para pacifist bahkan percaya bahwa manusia itu tak berdaya apa pun. Seperti dalam dunia pewayangan, hidup adalah sebuah episode yang sudah digariskan oleh sang dalang. Seperti wayang, manusia hanya menjalani lakon. Seluruh setting nasib ditentukan oleh sang dalang. Seperti figur-figur wayang, manusia tak kuasa apa pun di hadapan sang dalang.

Dalam suatu keadaan dahsyat yang tak terelakkan, pandangan penaklukan kehidupan umat manusia di bawah nasib oleh kekuatan takdir akan semakin kuat dipercaya. Dalam suatu keadaan dahsyat yang tak terelakkan-menghadapi bencana, petaka kematian, atau sebaliknya mendapat "durian runtuh" yang menguntungkan-orang akan lekas berbicara bahwa apa yang terjadi adalah suratan nasib.

Anehnya, suratan nasib itu jatuh kepada manusia maupun alam benda dan makhluk lain seperti jatuhnya surat keputusan dari langit, yang tak bisa diusut cerita asal-usulnya. Dilihat dari akal budi manusia yang hidup di bumi dengan dibekali kecerdasan tinggi, jatuhnya "SK nasib" itu diam-diam dalam lubuk hati yang paling dalam sering diotak-atik dalam bentuk berbagai ketakjuban, keheranan, ketidakpercayaan, sampai pada mempertanyakan dan protes terselubung rasa takut yang tak terjawab.

Ketika sebulan yang lalu terjadi petaka transportasi Lion Air di ujung landasan Bandara Adisumarmo, Surakarta, dengan banyak korban meninggal dan terluka parah, saya pikir telah terjadi kiamat sebagai takdir tersurat yang tak terelakkan. Itu adalah keputusan takdir yang yang tak terelakkan kata banyak orang. Waduh berat, saya tak dapat menerimanya. Soalnya, istriku menjadi salah satu korban dari mesin udara itu.

Benarkah semua yang terjadi semata-mata karena nasib? Benarkah manusia hanyalah wayang yang sekadar menjalani takdir? Tak dapatkah apa yang disebut nasib itu dipertanyakan kembali, digugat-atau sedikitnya diusut pangkal peristiwanya? Tak adakah perbedaan di antara nasib dan "hal kebetulan" atau kesengajaan (juga kelalaian) di dalam hal fatal yang tak terelakkan?

Apakah kematian Munir harus dilihat sebagai takdir? Siapa yang memutuskan "takdir kematian" Munir? Sebuah truk, bus, atau mobil, yang menerabas palang pintu kereta sehingga menimbulkan kecelakaan karena diterjang kereta api yang menurut jadwal perjalanan memang harus melintas di tempat itu, apakah nasib? Seorang koruptor yang demikian lihai dan liciknya mengutil uang negara sehingga menjadi kaya raya tujuh turunan, apakah juga nasib? Siapakah yang menurunkan "SK nasib"-nya sehingga ia menjadi orang kaya raya di bumi ini? Nasib? Karena nasibkah seseorang itu menjadi koruptor?

Jutaan bahkan mungkin miliaran manusia tak mendapat akses ke kompetensi kehidupan yang lebih layak karena tekanan politik kekuasaan, adat, budaya, agama, dan sebagainya, hingga menjadi tetap miskin, bodoh, dan tak berdaya menatap harapan dan kemungkinan hidup yang lebih baik. Nasibkah itu? Kini puluhan ribu manusia meninggal, hilang, cedera, dan mengalami petaka traumatik kehidupan masa depan karena diterjang gelombang tsunami Asia yang tak terkirakan dahsyatnya. Nasib. Takdir. Demikianlah anggapan kebanyakan orang dalam keputusasaan yang tak terelakkan.

Sekejam itukah nasib? Seganas itukah takdir sehingga sebilangan massal manusia yang tak tahu-menahu soal hakikat geologis (gempa) dan oseanografi menerimanya mentah-mentah sebagai suratan takdir derita yang menjadi penyebab nasib kesengsaraan?

Sungguh mengerikan. Belum pernah ada dalam catatan sejarah perang manusia yang menimbulkan begitu banyak korban kesengsaraan dalam waktu singkat seperti yang telah ditimbulkan oleh amarah tsunami Asia. Perang bukanlah nasib. Perang adalah nafsu amarah kebodohan manusia yang menyengsarakan. Tetapi, bencana alam bukanlah perang. Bencana alam adalah nasib, kata banyak orang. Takdir, anggap para pacifist. Bila demikian (bisa) sekejam itukah sang Nasib bertindak? Seganas itukah sang Takdir menjatuhkan "SK"-nya kepada umat manusia, alam benda, dan makhluk lainnya?

Allah Maha Pengasih, Pengampun, dan Penyayang, dapatkah engkau memberi tahu kepadaku-orang bodoh yang naif dan kurang beriman-siapakah nasib itu? Apakah takdir itu sehingga bisa sekejam dan seganas itu?

Jutaan bahkan miliaran orang hidup di bumi dalam ketidakberdayaan kepasrahan sindrom nasib yang dianggap tak terelakkan. Padahal, manusia diwacanakan sebagai limpahan citra Ilahi yang demikian dimuliakan. Paradoks. Manusia mengalami kenistaan yang tak terperikan dalam petaka alam yang tak mereka pahami. Siapakah alam itu sehingga membuat manusia tak berdaya, takluk kepada takdir yang diputuskan melalui nasib yang seolah-olah tak bisa ditawar seperti harga mati.

Tetapi, ya sudahlah, daripada diprotes dan dipersalahkan oleh banyak orang yang tunduk kepada suatu kepercayaan, saya sudahi saja pangudarasa (solleleque) saya tentang nasib dan takdir sampai di sini saja. Toh, saya hanyalah makhluk kecil yang bodoh, naif, dan kurang beriman sehingga tak mungkin menggali misteri liang takdir yang menentukan nasib ke lubuk dasarnya yang paling dalam. Pasrah!

Juga hari-hari ini, bila Anda semua orang-orang pintar nan arif bijaksana sedang merayakan Tahun Baru 2005, dengan berbagai harapan, doa, dan permohonan agar hari-hari Anda di tahun baru membawa perubahan hidup yang lebih baik, cerah, dan gemilang…, seolah-olah tahun baru adalah takdir yang sedang menggendong nasib yang sedang Anda sekalian tunggu.

Walah! "Tahun baru" adalah penggalan parameter waktu yang dibuat oleh kita-kita orang sebagai manusia yang dibilang makhluk cerdas penuh akal (-akalan) dan pandai merekayasa penggalan-penggalan imajiner waktu dalam kategori lama dan baru, lampau, dan akan datang. Dan dalam penggalan-penggalan, rekayasa waktu itulah takdir dan nasib kita rayakan.

Namun adalah arif searif-arifnya bila dalam merayakan waktu imajiner Tahun Baru itu kita sedikit toleran dan mengenal solidaritas diri terhadap ratusan juta manusia yang terkena musibah gelombang tsunami Asia maupun gelombang-gelombang kekerasan politik, kekuasaan, kezaliman, dan ketidakadilan yang disemukan di balik dalih tersembunyi yang disebut nasib. Tak ada eforia waktu bagi mereka yang sedang terkena musibah karena mereka harus bertarung hidup-mati melawan apa yang mereka percayai sendiri sebagai nasib! *


(Dikutip dari harian Kompas Minggu)