- Korma PDF Print E-mail

Korma (Instruktur BU ) 

 Berbeda dengan asisten Merta Ada yang lain. Seorang mantan polisi, dengan pangkat terakhir kapten, yang bernama Korma mengaku tidak pernah mempelajari ilmu kebatinan. Saat masih aktif, ia bahkan tak pernah mengetahui apa yang dimaksudkan dengan istilah meditasi, sekalipun di pertengahan tahun l990-an ia mulai mendengar istilah tersebut di masyarakat.  Ia hanya tahu tapa berata saat hari Raya Nyepi, paling tidak dalam pengertiannya sebagai kegiatan untuk melakukan kontrol terhadap diri seniri, agar tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. Lebih jauh dari itu, bagaimana cara bertapa atau samadhi, seperti yang telah dilakoni oleh keempat asisten tersebut di atas, tidaklah pernah ia ketahui.  

Sebagai seorang polisi, ia mengaku lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjalankan tugas, sehari penuh dan bertahun-tahun. Sekalipun harus dirunut dan dilacak pengalamannya dalam persoalan olah bathin, jawabannya hanya pada latihan pernafasan. Ketika masih ditugaskan sebagai pengawas keamanan di Sanur Beach Hotel antara 1981-1982, ia pernah berlatih olah pernafasan selama lima bulan, tergabung dalam perguruan Merpati Putih, saat bertugas di Hotel Sanur Beach. Itupun karena ikut-ikutan, sesuai dengan trend saat itu, yang mulai menempatkan tenaga dalam (inner power) sebagai salah satu bagian dari sisi kehidupan sebagai masyarakat modern.  Inti pelajarannya, bagaimana menarik menahan, menghembuskan, yang dipadukan dengan gerakan fisik. Jika hal itu dilakukan dengan tekun dan benar, akan terciptalah kekuatan di dalam tubuh yang bisa digunakan untuk melakukan hal-hal yang irrasional, seperti memecahkan batako, melengkungkan besi, berjalan di atas bara api, menyalakan lampu neon dengan pansa tubuh dan sebagainya.

Akhirnya disuruh latihan memecahkan batako. Itulah yang disebut dengan latihan menggunakan tenaga dalam.  Sekalipun sudah mendapat bayangan kehebatan seperti itu, Korma ternyata tak melanjutkan. Tujuan yang ingin diraihnya saat itu hanyalah ingin tahu, apa yang dimaksud dengan tenaga dalam, dan bagaimana memperolehnya. Dengan pengalaman yang sederhana seperti itu, sangat mudah dipahami, mengapa ia tidak mengenal makna meditasi. Barulah setelah mengenal Merta Ada, ia paham maknanya. Korma mengetahui nama Merta Ada ketika pada suatu hari ia menghadap atasannya untuk menyampaikan permohonan dipindahkan dari tempat tugasnya, ke tempat lain. Oleh atasannya, ia saat itu (1993-1994) ditugaskan sebagai Security Chief di Hotel Bali Beach, Sanur. Atasan tidak menanggapi permintaan tesebut secara serius, karena heran mengapa ada orang meminta pindah tugas dari tempat ‘basah’ seperti itu. Sudah menjadi rahasia umum, seorang kepala petugas kemaanan, mempunyai akses yang luar biasa untuk masuk ke pihak Manajemen Hotel, yang memungkinkan baginya untuk memperoleh manfaat pribadi.  Sekalipun rumor tersebut benar adanya, Korma adalah sebuah perkecualian, ia dianggap aneh dan langka.

Oleh karena itu sang majikan langsung memvonis: “Kamu stress, karena itu sebaikknya kamu berlatih meditasi kesehatan pada Bapak Merta Ada, dan saya bersedia mengantarkannya. Saya sendiri sudah mengikutinya.” Ia tanggapi jawaban atasan dengan kesal, terutama atas vonis stress, tetapi tentu tidak diperlihatkan dengan nyata, dibungkus oleh senyumnya yang khas. Di sisi lain, ia salut atas perhatian atasannya, terutama prihal saran untuk mengikuti meditasi. Sekalipun mulai tertarik, ia ia tak segera meng-ia-kannya.  Korma membiarkan kisah pertemuan dengan sang atasan itu berlalu begitu saja. Hingga sampai suatu saat, sekitar setahun kemudian, ia membaca sebuah iklan tentang metitasi regule yang akan dilaksanakan oleh Bali Usada, di bawah asuhan Merta Ada.

Saat itu sekitar bulan Nopember 1996, beberapa hari kemudian Korma datang langsung ke Center Bali Usada, mendaftarkan diri, memenuhi persyaratan administratif. Setelah jadwal yang sudah ditentu tiba, ia datang tepat waktu, dan sejak itu jadilah ia murid Merta Ada di bawah payung Bali Usada.  Sebelum ikut meditasi, ia mengaku mempunyai banyak keluhan, kalau berjalan 100 meter saja ia sudah terengah-engah, di mata sebelah kanannya selalu berkedip-kedip, yang dijelaskan oleh ahlinya ini tidak akan bisa sembuh mungkin akan bertambah parah sehingga akan menyebabkan kebutaan, apalagi kalau sedang tegang, tangan kanannya tidak bisa digunakan untuk menyentuh wajahnya ketika mencuci muka, juga pada kadar gula dan kolestrolnya. Menurut keterangan dokter, kadarnya sudah cukup tinggi, namun belum membahayakan, sehingga Korma belum begitu serius menanggapi penyakitnya. Setelah mendapat penjelasan dari Merta Ada, barulah ia sadar dan mengetahui bahwa dirinya betul-betul stress, sebagaimana yang disebut oleh atasannya. Ia menghubung-hubungkan ciri-ciri orang stress yang digambarkan oleh Merta Ada, dengan kondisi riil dirinya.  

Menurut Merta Ada, orang yang stress, levernya banyak mengeluarkan gula, sehingga insulin tidak dapat bekerja menjalankan fungsinya. Insulin adalah hormon yang dibentuk dalam pankreas yang fungsinya mengendalikan kadar gula dalam darah. Kalau insulin sudah tidak aktif, berati kadar gula tak ada yang mengawasi. Ia cukup cemas mengetahui hal itu, tetapi Merta Ada mengajarkan tidak boleh cemas, melainkan selalu berfikir harmonis, kemudian menyalurkannya ke cakra. Ia ikuti saran gurunya. Pada pertemuan terakhir, ia mengecek kadar gula dan kolestrolnya, ternyata hasilnya bagus. Kondisi tubuhnya tidak lagi lemas, semakin sehat. Tidurnya semakin nyenyak dan makan pun semakin lahap. Dulu saat stress, tidurnya tidak pernah nyenyak, dan makanpun kurang enak.  Oleh karena itu pada periode berikutnya ia menyertakan istrinya, dengan kata kunci, wajib mengikuti meditasi kesehatan, agar sehat dan segar seperti dirinya. Ia antarkan istrinya pulang-pergi. Daripada membuang waktu secara percuma, maka pada saat acara ceramah, ia ikut menjadi pendengar, sehingga boleh dikatakan, ia sudah mengikutinya dua periode berturut-turut.

Jadilah suami-istri ini memiliki kegiatan yang seirama: meditasi bersama. Kegiatan ini dilakukan rutin, kontinyu di sore hari, kecuali Korma sedang menjalankan tugasnya sebagai asisten dalam Tapa Berata.  Korma adalah asisten andalan Merta Ada, terutama dalam hal membantunya memimpin olah raga eterik pada program Tapa Berata internasional, yang peserta sebagian besar orang barat, sehingga penyajiannya menggunakan bahasa Inggris. Pengalaman sebagai Security Chief memungkinkan Korma bisa berbahasa Inggris. Kehadiran orang-orang asing dalam kegiatan Tapa Berata, dan bahkan ada di antara mereka sampai mengikutinya berulang kali, menunjukkan bahwa produk khas Bali Usada ini sangat digemari karena bermanfaat bagi kesehatan.  Korma mengakui hal itu. Dia sendiri memperoleh manfaat luar biasa, ketika berhasil mengikuti program Tapa Brata. Semua keluhan yang diderita sebelum mengikuti Meditasi Usada seperti diatas : kalau berjalan 100 meter saja ia sudah terengah-engah, di mata sebelah kanannya selalu berkedip-kedip, apalagi kalau sedang tegang, tangan kanannya tidak bisa digunakan untuk menyentuh wajahnya ketika mencuci muka, juga pada kadar gula dan kolestrol serta stress,hampir semua mendapatkan kesembuhan .

Ia pertama kali mengikuti program ini tahun 1998 di salah satu rumah Merta Ada, di Jalan Salya, Denpasar. Kegiatan itu berlangsung selama seminggu, ditangani langsung oleh Merta Ada, tanpa menggunakan asisten, tidak menggunakan kaset. Sedangkan masalah konsumsi ditangani langsung oleh istri dan pembantunya pak Merta Ada. Setelah berlangsung tiga kali di Salya, lalu pindah ke Center. Saat itulah Korma mulai membantu Merta Ada dalam hal olah raga eterik dan pengaturan jadwal kegiatan.  Saat itu belum dikenal istilah asisten. Merta Ada hanya berkata: “Tolong bantu saya” dan Korma pun membantunya. Ternyata ia mampu bertahan hingga sekarang: “Yang menyebabkan saya bertahan di sana, pertama, saya banyak punya waktu luang. Kedua, saya merasa mendapat sesuatu karena setiap saat mengikuti meditasi. Ketiga, perkembangan meditasi saya itu lebih bagus.”