| Salah sangka. |
|
|
|
|
CERAMAH INSPIRASI MEDITASI Oleh : Bp. Merta Ada Salah sangka. Tema : “Apa yang dia katakan, apa yang kudengar, sama. Tapi, apa yang dia maksud dengan yang kumaksud, berbeda.” Dalam kehidupan ada banyak hal yang terjadi secara tak terduga. Apabila dalam menghadapinya kita tidak memiliki pikiran harmonis, maka akan mudah menimbulkan stress atau depresi. Saya berikan contoh : 1. Seorang Ayah sering bepergian ke luar kota untuk berbisnis, sehingga dia sangat jarang ada di rumah. Suatu hari sekitar jam 11 malam dia baru datang dari luar kota, sampai di rumah anak-anaknya semua sudah tidur. Dia merasa lelah sekali, habis mandi dia langsung tidur. Keesokan paginya, anaknya yang paling bungsu namanya Gusdo umur 7 tahun, bangun lebih dulu. Dalam keadaan setengah sadar si ayah mendengar dia teriak-teriak menanyakan, “Ayah ada ya? Ayah ada ya? Ayah ada ya?” Si Ayah mendengar hal itu merasa senang sekali dirindukan oleh anaknya, lalu spontan menjawab “Ya, Ayah ada !!” Tapi ternyata yang dia maksud bukan begitu. Gusdo bilang, “Wah… Ayah ada, aku tidak boleh nonton TV”. Begitu maksudnya. Seringkali kita tertipu dengan keadaan dunia yang seperti itu. Apa yang orang maksud belum tentu sama dengan apa yang kita maksud. Kelihatannya saja yang sama. Mengapa begitu? Sebab kita belum bisa melihat atau merasakan kebenaran. Kita sering tertipu oleh konsep pikiran yang kita buat, bukan karena kemurnian pikiran kita dalam melihat kebenaran itu. Kalau pikiran yang murni, sebetulnya dapat merasakan getaran dari kalimat –kalimat yang kita dengar. Seperti contoh tersebut, bukan getaran rindu yang si Ayah sebenarnya rasakan dari si anak , melainkan adalah getaran khawatir. 2.Pada suatu hari saya menerima konsultasi di center saya yang di Sanur. Ada sepasang suami istri yang datang. Mereka sudah menikah lebih dari 30 tahun. Yang wanita + 60 tahun, dan yang pria berumur + 65 tahun. Mereka datang berdua tapi saat konsultasi mereka konsultasi sendiri-sendiri. Yang wanita masuk lebih dulu, yang pria menunggu diluar sambil merokok. Wanita ini mengeluh, “Saya sangat kuatir dengan suami saya, dia perokok berat. Dokter bilang itu dapat menyebabkan sakit jantung, bisa mati mendadak.” Sebab mereka berdua adalah murid Bali Usada, maka saya bilang “ya, nanti saya nasehati supaya dia mengurangi merokoknya”. Kemudian wanita ini melanjutkan ceritanya, “Saya sangat takut dan kuatir sekali kalau dia mati. Sebab, sudah lebih dari 30 tahun menikah, tapi diajak untuk membuat surat kawin saja tidak mau. Jadi kami kumpul kebo saja selama ini. kalau dia mendadak mati, maka semua harta kekayaan yang telah kami kumpulkan selama ini akan diambil oleh saudara-saudaranya.” Wanita itu mengeluh begitu kepada saya.. Selama 30 tahun mereka bersama, sudah tentu ada rasa cinta. Tetapi bukan cinta yang dia kuatirkan melainkan harta kekayaan. Sebab kalau suaminya mendadak mati maka dia tidak akan mendapat warisan. Lalu saya menasehatinya, “ikutlah Tapa Brata, mudah-mudahan dia mau mendengar nasehat saya”. Lalu wanita ini keluar. Sekarang suaminya yang masuk, dia bilang “Wah… saya kuatir sekali dengan istri saya. Dia sangat sayang pada saya, dia sangat mengkhawatirkan saya karena saya perokok. Dia takut saya mati. Dia sampai stress memikirkan keadaan saya.” Pria ini mengira istrinya betul-betul cinta dengan dia. Padahal istrinya takut kehilangan kekayaan. Mengapa kita sering tertipu??? Karena pikiran kita terbungkus oleh kebodohan, ilusi, dan kebencian. Sehingga apapun yang muncul diluar, persepsion, memori kita yang menjawab dulu. Kalau kita rajin bermeditasi memperhatikan napas atau merasakan badan dan melatih sadar bijaksana kita, maka ini yang akan membersihkan sifat buruk itu. Rasa takut, ilusi, dan memori yang buruk itu tidak akan mempengaruhi keputusan kita dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya kita penting bermeditasi, untuk memurnikan diri. Kita sebagai warga negara Indonesia harus merasa beruntung, karena kita beragama. Sehingga setiap tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari disesuaikan dengan agama kita. jika tidak, maka dengan sendirinya pikiran kita akan terjerumus di tempat yang buruk. Ajaran agama, mengajarkan kebenaran dan kebaikkan . Misalnya, menurut agama, saya tidak boleh mencuri, berzinah. Bila kita taati, maka kita berbuat baik maka akan terasa getaran baik di dada. Jika memiliki pikiran yang tajam, dapat mengetahui kebenaran ajaran agama .Kita dapat merasakan getaran buruknya. kalau berbuat buruk, getaran buruk akan terasa di dada. Sebab pikiran yang murni, melihat/merasakan/menyadari apa adanya. Bila buruk maka akan terasa getaran buruk. Ketika kita baik, maka akan terasa baik getarannya. Saat bermeditasi, cobalah untuk menguatkan sadar dan bijaksana. Sadari napas masuk, sadari napas keluar, panjang tahu, pendek tahu. Sadari penyakit kita, tahu dia berubah, kesadaran/eling/kewaspadaan ini yang akan memurnikan untuk melihat hidup ini seperti apa adanya. Kesehatan, ketenangan, keluhuran budi akan terbentuk dengan sendirinya. SENIN, 29 OKTOBER 2007 Di BUC sanur,ditulis oleh Ayu/ Tim BU. |









