|
CERAMAH INSPIRASI MEDITASI Oleh : Bp. Merta Ada “Kemelekatan”
Kemelekatan ada dalam berbagai tingkat. Kemelekatan tidak sama dengan Keinginan. Keinginan dapat digolongkan menjadi dua yaitu keinginan baik dan keinginan buruk. Sebagai manusia kalau kita tidak mempunyai keinginan, kita tidak akan bisa mengarahkan pikiran kita. Dalam bermeditasi, keinginan adalah sesuatu yang wajar. Kita memerlukan keinginan untuk mengamati napas. Jika muncul keinginan untuk memegang napas tapi tidak bisa maka akan muncul marah, benci. Ini merupakan orang yang mempunyai keinginan tapi dengan keinginannya dia melekat/ serakah untuk kepentingan dirinya sendiri, ini yang disebut kemelekatan.
Keinginan yang buruk ini kadang diterjemahkan keserakahan atau kemelekatan. Kalau di badan, dia menimbulkan energi dingin yang buruk. Keinginan yang diikuti oleh keserakahan, ingin untuk kepentingan diri sendiri, ini yang akan menimbulkan energi dingin yang dapat menimbulkan penyakit di badan kalau datangnya dari pikiran buruk.. Kolesterol muncul, levernya banyak minyak, kalau pada pria kelenjar prostatnya membengkak. Kalau pada wanita, muncul mium, di payudaranya muncul benjolan, dan sebagainya.
Kalau keinginan baik, misalnya; “Saya ingin mendoakan orang tua saya supaya bahagia”. Ini akan menimbulkan rasa hangat di badan. Dalam kehidupan sehari-hari keinginan baik tetap dapat dilakukan, tapi keinginan buruk yang melekat / serakah, kalau bisa berusahalah menghindarinya.
Pada tingkat yang lebih tinggi supaya keinginan itu menjadi murni, disebut namanya kebutuhan. Dalam meditasi, ketika kebutuhan muncul pikiran makin murni maka penyembuhan makin kuat. Meditasi secukupnya saja, amati napas, amati badan, dia tidak kekal, maka pikiran harmonis muncul. Pikiran harmonis inilah yang memberi kasih sayang, melepaskan kebijaksanaan sehingga menjadi obat. Kalau saya menyebutkan pikiran harmonis, maka yang dimaksud adalah pikiran yang mempunyai keinginan dalam bentuk sudah mendekati kebutuhan. Sebagian orang melatih keinginan untuk mengurangi kemelekatan. Umpamanya kemelekatan yang paling kuat ada pada panca indera kita. misalnya melekat pada makan durian. Sekarang makan durian, besok kalau ada, kita makan lagi, beli lagi. Esoknya lagi kalau tidak ada durian, kita merasa marah, kesal. Kemelekatan yang kuat yang membutakan/ mengotori pikiran. Contoh lainnya adalah nafsu. Orang yang memiliki kemelekatan kuat pada nafsu dapat melakukan pemerkosaan. Kemelekatan itu begitu kuat menutupi pikirannya. Walaupun dia tahu setelah memperkosa, urusannya akan menjadi besar, tapi dia tetap melakukannya.
Kemelekatan itu sangat menutupi dan mengotori batin kita. Kemelekatan / keserakahan yang kasar ada pada panca indera kita. Kalau yang lebih halus ada pada pikiran kita.
Kemelekatan pada pikiran ini kita sebut konsep. Sebab sejak kecil kita sudah ditanamkan pada pikiran kita. misalnya; waktu kecil orang tua kita bilang “jangan ke ruang gelap, disana ada hantu!!” sampai saat ini konsep itu masih ada di pikiran kita Walaupun kita tahu tidak ada hantu, tapi di bawah sadar kita muncul rasa takut ketika masuk ke ruang gelap.
Dalam meditasi saat merasakan napas / badan, konsep-konsep kemelekatan di bawah sadar ini akan dihilangkan, sehingga kalau semua kemelekatan yang ada di pikiran kita sudah hilang, maka kita akan mampu melihat seperti apa adanya. Caranya melatih sangat bertahap. Contohnya; Saya setiap hari menjamu makan guru saya. Saat makan pagi, saya perhatikan makanan yang paling banyak beliau makan, sehingga saya tahu makanan itu yang paling beliau suka. Esoknya, saya suguhkan lebih banyak makanan yang beliau senangi itu. Apa yang terjadi? Beliau tidak menyentuh makanan itu. Beliau tahu enak itu melekat, sehingga mau lagi, mau lagi. Lain halnya dengan kita. kalau kita suka makan bakso, sekarang makan bakso, besok ada bakso, kita makan lagi, terus seperti itu. Ini yang menimbulkan kemelekatan. Jadi, saat sahabat meditasi yang menyukai bakso, melihat bakso, sebaiknya berkata “oo… ini kemelekatan saya”. Ini adalah kebiasaan baik-kebiasaan baik untuk melatih supaya kita tidak melekat. Kalau orang bisa menghilangkan atau melepas kemelekatannya, itu sungguh luar biasa.
Cara yang paling mudah adalah melalui meditasi. Ketika merasakan napas, makin jernih napas kita, bisa keluar atau masuk sendiri, maka makin bagus proses ‘melepas’ kita. Perhatikanlah saat kita mulai bermeditasi. Kita menarik napas, kita mendorong napas. Ini kemelekatan kita masih kuat. Saat tenang napas masuk sendiri, keluar sendiri, maka kemelekatan kita akan berkurang. Jika saat kita perhatikan, napas kita masuk sendiri lalu diam sebentar, kemudian keluar sendiri dan diam sebentar, ini berarti kemelekatan kita sudah berkurang. Di bawah sadar kita tidak menarik atau mengeluarkan lagi.
Setiap orang dapat melatihnya secara bertahap untuk mengurangi ego atau kemelekatan kita. Tentu saja dalam praktek sehari-hari agama kita sudah mengajarkan kita beryadnya/ bersedekah/ beramal/berdana. Itu tujuannya untuk mengurangi kemelekatan. Dengan memaafkan orang yang kita benci, juga dapat mengurangi kemelekatan.
SENIN, 5 NOVEMBER 2007 ditulis oleh Ayu/Tim BU di BUC Sanur.
|