Kebodohan & Ego PDF Print E-mail
CERAMAH INSPIRASI MEDITASI
Oleh : Bp. Merta Ada

 
 Kebodohan & Ego

 Kebodohan dan ego itu sangat sering membutakan kita sehingga kadang-kadang akan merugikan diri kita. 
Orang yang memiliki kebodohan dan ego yang kuat, dia menjadi buta karena ego mementingkan diri sendiri. Lalu kita mencari kesalahan itu pada orang lain. Mengapa itu terjadi? Karena kewaspadaan, kesadaran dan kebijaksanaan, kurang dimiliki. Seharusnya hal itu jarang terjadi pada seorang meditator. Bukannya tidak pernah terjadi, tapi lebih jarang. Sebab saat merasakan napas dan merasakan badan, secara tidak langsung kita telah melatih kewaspadaaan, kesadaran dan kebijaksanaan. 

Orang yang bodoh, tidak dapat membedakan tindakan apa yang harus diambil dan tindakan apa yang harus dihindari. Orang yang kewspadaannya kurang, tidak dapat merasakan ketika badannya terasa tidak enak. Badan manusia kadang-kadang terasa enak, kadang terasa tidak enak. Kalau sudah sakit keras baru tahu sulit untuk menyembuhkan. Semakin banyak kewaspadaan dan kebijaksanaan yang kita miliki, maka kesensitifan kita juga akan bertambah kuat. Sehingga jika badan terasa tidak enak, kita akan mengetahuinya. Kemudian dengan sadar dan bijaksana kita lepaskan. Maka keliaran tidak akan tertanam terus menerus di badan kita. Sehingga akan menyembuhkan penyakit. Kalau kesadaran dan kebijaksanaan kita latih setiap hari, seharusnya kebodohan dan ego akan berkurang.

Saya berikan satu contoh cerita:
Ada seorang laki-laki yang datang ke Dokter untuk berkonsultasi. Dia bertanya, “Dok, apa yang salah pada diri saya sehingga orang tidak suka bergaul dengan saya? Mereka selalu menjauhi saya. Padahal saya ingin berteman dengan mereka. Banyak orang bilang kalau saya ini sakit. Tapi saya sendiri merasa sehat, tidak ada yang sakit.” 
Dokter lalu bertanya, “Coba kamu perhatikan badan kamu lebih teliti lagi, apa betul tidak ada yang sakit?” lalu laki-laki ini menjawab, “Iya, dok, saya tahu. Saya setiap beberapa menit pasti kentut. Tapi kentut saya tidak bau dan tidak bunyi. Hanya saya yang tau”. 
Kemudian dokter menjawab, “O..o begitu, kalau begitu saya buatkan resep untuk menyembuhkan kentutmu itu”.
 Seminggu kemudian laki-laki itu datang lagi. Kali ini dia datang sambil marah-marah “Semenjak saya berobat denganmu, sekarang kentut saya menjadi bau. Padahal dulu tidak bau.!!!”
 Dokter itu tertawa melihat tingkah pasiennya. Sebab obat yang dia beri dulu itu adalah obat untuk menyembuhkan penyakit flu. Tentu saja karena dia flu, dia tidak bisa mencium bau kentutnya. Kemudian dokter itu memberinya resep lagi. Kali ini adalah resep untuk mempertajam pendengaran, sehingga dia bisa mendengar bunyi kentutnya.
Orang bodoh dan ego, kebanyakan seperti itu. Tanpa dia sadari dia telah merusak diri dan lingkungannya.
Dengan belajar meditasi, maka kedewasaan dan kebijaksanaan akan dikuatkan. Saya sering mendengar dari pasien saya yang datang konsultasi, umumnya mereka tidak menyadari kalau mereka sakit. Setelah diajak meditasi baru terasa, mungkin badannya bergerak-gerak, muncul rasa sakit saat meditasi. Menurut saya itu hal yang wajar. Sebab kalau meditasi, pikiran menjadi tenang, tajam, dan sensitive sehingga penyakit maupun bibit penyakit, dapat kita rasakan dia berubah, dia tidak kekal. 
Kita tidak bodoh, kita waspada, sadar dan bijaksana. Jadi saat meditasi, kita melemahkan kebodohan atau ego di pikiran maupun di badan dan menguatkan pikiran harmonis kita.. 

SENIN, 10 DESEMBER 2007,ditulis oleh Ayu/Tim BU,di BUC Sanur.