| Mentransform pikiran supaya lebih baik |
|
|
|
|
CERAMAH INSPIRASI MEDITASI Oleh : Bp. Merta Ada “Mentransform pikiran supaya lebih baik. ” Dalam seminggu yang telah lewat ini, seperti biasa saya selalu sibuk mengajar tapa brata. Salah satunya di Baturiti yang berakhir sabtu lalu. Saat itu disana ada 26 peserta dengan problem yang berbeda-beda. Setiap orang konsultasi dengan saya. Mereka menceritakan problemnya lalu kami carikan solusinya. Demikian seterusnya. Setelah mendengar sekian banyak problem-problem yang mereka miliki, saya jadi merenungkan itu, “Betapa banyaknya penderitaan dalam hidup ini. Penderitaan itu muncul akibat dari kelengahan kita, karena kebodohan kita. Kebodohan pada diri kita berakar pada: 1. Kegelisahan. 2. Kemelekatan, melekat sehingga kita tidak bisa menyetop diri ketika kita senang sesuatu. 3. Kebencian, muncul ketika kita tidak puas dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita. Ketiga hal ini adalah dasar munculnya sebuah problem dalam kehidupan kita. hanya karena ketiga hal ini pula yang dapat menimbulkan, kanker, tumor, perselingkuhan dalam perkawinan, dan sebagainya. Mengapa tiga hal ini dapat tumbuh kuat pada diri kita? karena kita tidak awas, tidak melatih pikiran kita menjadi harmonis.” Itulah yang saya renungkan, sebab terkadang saya juga mengalaminya. Lupa untuk waspada. Seharusnya saya sudah waktunya istirahat, tapi karena senang, di puji orang, karena melekat, kadang-kadang saya juga terlalu kerja keras, sudah kelelahan, karena terpaksa tetap memeriksa orang dari jarak jauh, akhirnya saya juga sakit. Seharusnya yang menjaga agar badan tetap sehat dan seimbang adalah diri kita sendiri. Coba kuatkan kewaspadaan dan kebijaksanaan kita dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita akan dapat mengetahui seberapa jauh kita boleh melangkah. Sampai dimana kekuatan kita kemudian dikembangkan perlahan-lahan supaya dia bertambah baik. Jadi kewaspadaan dan kebijaksanaan kita dalam berlatih meditasi ini akan menjadi bekal dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya ingin menceritakan satu hal, yaitu; hari sabtu dan minggu yang lalu saya menonton sebuah Acara di TV namanya Asian Idol. Dimana peserta yang bernyanyi berasal dari 5 negara di ASEAN yaitu India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapore. Kita memperhatikan mereka bernyanyi, kemudian dikomentari oleh juri-juri. Saya juga sebagai penonton dapat menilai mana yang bagus. Memang semuanya bagus-bagus. Kita berpikir yang menang pasti India, karena jumlah penduduknya 1 milyar, otomatis banyak yang mengirimkan SMS. Pemenang yang dipilih adalah berdasarkan polling SMS. Kalau bukan India, berarti Indonesia yang menang, dan seterusnya. Sedangkan yang nyanyi bagus, menurut saya, juga menurut komentar juri adalah dari Filipina, Indonesia, dan India. Yang lainnya biasa-biasa saja. Tapi ternyata yang menang dari Singapore. Sebelumnya saya tidak menduga sebab penduduk Singapore paling sedikit. Hidup ini sangat sulit untuk dipridiksi. Apa yang dapat saya pelajari dari melihat itu? Bahwa orang kadang-kadang memiliki kefanatikan yang tidak berdasarkan kebaikan. Menghalalkan segala cara yang penting pujaannya menang. Egonya kuat. Saya bayangkan, ketika menonton Indonesian Idol. Kita perkirakan si A yang menang. Memang dia tidak ganteng, tidak cantik, tapi suaranya bagus. Juri juga memuji. Tapi yang menang yang lain. Karena penduduk di kota itu lebih banyak, mungkin juga karena ada seorang pengusaha yang mengirimkan dia SMS, satu orang 1 juta rupiah mengirimkan dia SMS. Disegala bidang juga demikian. Jadi orang kebanyakan memilih tidak berdasarkan kebenaran. Karena merasa, ‘dia milikku, golonganku, kawanku, biarpun jelek, yang penting dia menang’. Apa yang terjadi pada diri kita? kita menjadi mementingkan diri sendiri (ego). Kita merusak pikiran kita menjadi bodoh. Tidak mau mempertimbangkan yang mana yang baik atau benar. Jadi kelihatannya saja hebat, tapi sebetulnya merusak pikiran diri sendiri, maka kegelisahan akan muncul dari pikiran yang dipenuhi kebodohan mementingkan diri sendiri atau memuaskan ego, seperti itulah trend yang kita lihat di dunia ini sekarang. Yang menang dari Negara tertentu, orang-orang di Negara tersebut yang penghasilannya tinggi-tinggi, mengirimkan SMS, satu orang sebanyak mungkin. Yang penting Negara itu menang. Kalau Negara itu menang, sudah tentu negaranya akan semakin terkenal. Ini hitungan bisnis. Saya berpikir, kalau dalam satu negara masyarakatnya kebanyakan berpikir seperti itu, menghalalkan segala cara, walaupun tidak jahat, maka tanpa disadari mereka telah mentransform negara itu menjadi serakah, ego. Hal seperti ini akan merusak masyarakatnya sendiri. Kebahagiaan sejati tidak akan muncul di negara-negara seperti itu,yang hanya mementingkan diri sendiri dan golongan sendiri. Saya menulis SMS untuk minggu-minggu mendatang, saya katakan: ‘kerelaan yang dilakukan hanya dengan memberikan kelebihan yang kita perlukan, itu lemah sekali mentransform pikiran’. hal itu saya lihat saat konferensi di Nusa Dua. Negara-negara maju membantu negara-negara yang tidak maju untuk mencapai kesepakatan hanya dengan mengorbankan sedikit yang dia miliki. Sehingga sebetulnya dihatinya mungkin mereka mengatakan, “Saya tidak mau” hanya karena keterpaksaan dan gengsi maka mereka hanya sekedar memberi saja. Bantuan hanya diberikan hanya berdasarkan untung rugi tidak memberi manfaat untuk mentransform kebaikan pikiran si pemberi. Umpamanya kita di rumah hidup pas-pasan. Tapi kita berani mengorbankan sebagian dari milik kita untuk orang yang memerlukan.Ini menstransform pikiran sangat kuat menjadi harmonis. Tapi jika penghasilan kita 10 juta rupiah, kita hanya menyumbang 1000 rupiah, hanya sekedar saja, maka itu tidak akan mentransform pikiran kita. tapi kalau kita menyumbang, berani mengorbankan darah kita, berani mengorbankan sebahagian kesenangan kita untuk orang lain, maka ini akan mentransform dengan lebih baik. Coba perhatikan , umpamanya nanti malam ada telenovela yang bagus, yang kita senangi, lalu kita berpikir, ‘Oh kawan saya sakit di rumah sakit’, lalu berpikir lagi ‘ah.. tidak apa saya tidak menonton telenovela itu sekali, karena membesuk kawan lebih penting’. Ini merupakan kerelaan yang bagus. Karena kita berani mengorbankan kesenangan kita untuk membesuk kawan. Kalau kebetulan kita memang ada waktu luang untuk membesuk kawan, itu juga baik. Tapi baiknya tidak sekuat berani mengorbankan kesenangan kita. Dalam meditasi juga demikian. Usahakan waktu kita bermeditasi, kita melatih kerelaan kita dengan memperhatikan napas. Rela dalam arti tidak memegang atau melekat. Biarkan napas keluar dan masuk dengan sendirinya. Kita tahu panjang, tahu pendek. Kita tahu dia berubah, dia tidak kekal. Didalam meditasi selama 30 atau 45 menit kita latih pikiran kita, tidak gelisah,melepas dan lembut penuh cintakasih,menjadi pikiran harmonis, dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari maka transform pikiran akan terjadi dengan baik dan kuat. Kesehatan, ketenangan,dan kebahagiaan akan muncul dari dalam, karena bibitnya kita sendiri yang membuat. SENIN, 17 DESEMBER 2007,ditulis oleh Ayu/Tim BU di BUC Sanur. |










Dalam seminggu yang telah lewat ini, seperti biasa saya selalu sibuk mengajar tapa brata. Salah satunya di Baturiti yang berakhir sabtu lalu. Saat itu disana ada 26 peserta dengan problem yang berbeda-beda. Setiap orang konsultasi dengan saya. Mereka menceritakan problemnya lalu kami carikan solusinya. Demikian seterusnya. Setelah mendengar sekian banyak problem-problem yang mereka miliki, saya jadi merenungkan itu,