DARI SAYA, INI YANG DIRASAKAN DAN DIPELAJARI DARI KELAS MEDITASI
Lebih dari 10 tahun saya bekerja di organisasi non pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Saat ini saya bekerja untuk organisasi internasional yang berbasis agama. Memiliki kepercayaan yang berbeda dengan organisasi tempat saya bekerja telah banyak merangsang pemikiran saya bahwa melayani orang dan melakukan kebaikan adalah sesuatu yang universal tanpa memandang agama atau kepercayaan yang kita miliki.
Fokus pekerjaan saya yang banyak berhubungan dengan bencana baik itu alam maupun yang disebabkan oleh manusia (konflik) telah membuat diri saya beresiko untuk dipengaruhi oleh energi negatif. Mengapa seperti itu? Pada saat bencana, ketidakteraturan atau kekacauan terjadi disana baik pada tingkat individu maupun masyarakat. Orang sangat mudah untuk marah dan tidak sabar karena penderitaan dan ketidakberdayaan yang mereka alami. Dilain pihak, tekanan datang dari diri saya sendiri karena selalu memiliki keinginan untuk mencapai segala sesuatu setingi-tingginya dan sesempurna mungkin. Semakin tinggi saya mencapai sesuatu, semakin baik saya merasa tentang diri saya. Karena itulah saya selalu menekan diri saya dan teman-teman kerja untuk membantu orang dengan pelayanan yang berkualitas tinggi.
Saya meyakini ketika keinginan untuk membantu orang diwujudkan dalam suatu tindakan berarti saya membagikan energi positif. Tetapi ketidakseimbangan antara energi negative yang saya dapat dan yang ada didiri saya dengan energi positif telah menyebabkan saya mengalami keluhan di kepala, dada, ambein, punggung and nyeri di sekitar alis. Keluhan ini dirasakan semakin menjadi-jadi dalam 4 bulan terakhir. Saya sering kali marah dan kecewa karena selama 4 bulan itu saya melakukan pekerjaan yang tidak disukai tetapi harus dilakukan. Situasi tersebut telah menguasi saya. Puncaknya adalah ketika saya merasakan kurang bisa berpikir secara jelas and obyektif. Beruntungnya, saya masih bisa berpikir, saya perlu mencari bantuan. Melalui rekomendasi dari teman baik, saya memutuskan untuk menkiuti kelas meditasi ini.
Salah satu hal yang tersulit saat berada disini adalah ketika harus menyerahkan buku yang sedang saya baca secara sukarela. Sebelum buku itu diberikan, saya berusaha untuk membaca sebanyak mungkin lembaran. Sebenarnya, teman saya sudah memberitahukan tentang hal ini. Saya katakan kepadanya bahwa saya bisa bertahan tanpa berbicara dan menulis, tidak menyimpan makanan dan tidak makan ikan/daging/ayam/telur. Tetapi tidak membaca buku, saya berpikir diri saya akan merasa kosong. Kenyataannya, saya bisa bertahan tanpa buku (setidaknya seminggu). Satu hal yang saya pelajari dari kejadian ini adalah bahwa ketergantungan terhadap buku telah membuat saya ingin selalu memiliki buku selama-lamanya, padahal buku tidak selalu selamanya tersedia.
“Saya harus bertemu Pak Merta’. Itu adalah salah satu tujuan saya datang kesini. Hari pertama dan kedua, saya khawatir kalo tidak mendapatkan keinginan tersebut karena saya melihat banyak teman-teman juga ingin bertemu dengan beliau dan saya yakin beliau tidak memiliki waktu yang cukup untuk bisa melayani semua konsultasi. Kemudian, saya menemui bapak asisten untuk memastikan apabila semua orang, tentunya salah satunya saya, dapat bertemu dengan beliau. Saya merasa lega ketika Bapak asisten mengatakan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bertemu Pak Merta. Tetapi, daftar pertanyaan saya semakin berkurang setiap harinya. Dan pada hari ke 5, saya tidak memiliki pertanyaan lagi. Pak Merta sudah menjawabnya melalui meditasi yang saya lakukan dan ceramah yang diberikan. Satu hal yang mengagumkan untuk saya adalah pada saat Pak Merta menyampaikan ceramahnya, banyak pertanyaan yang muncul dikepala, tetapi beberapa menit kemudian, beliau telah menjawabnya. Takut dan kagum bercampur menjadi satu. Saya takut beliau bisa membaca pikiran saya dan kagum karena mengetahui bagaimana suatu energi tersambung.
Saya meyakini meditasi ini tidak akan terlupakan karena kegembiraan yang saya rasakan ketika akhirnya saya menemukan memori yang berkontribusi pada keluhan yang disebutkan diatas. Memang benar, saya merasa sangat menderita/sakit merasakan situasi/kejadian itu lagi. Kejadian/situasi tersebut muncul tiba-tiba ketika berkonsentrasi dan merasakan perubahan pada bagian badan yang sakit. Sudah lama sekali, saya mencari dan mempertanyakan kepada diri saya tentang memori yang ada dibelakang keluhan fisik tsb. Saya pikir keluhan tersebut disebabkan tekanan dalam pekerjaan, tetapi ternyata bukan. Saya tidak pernah berpikir kalo hal-hal kecil ada dibalik ini semua. Karena saya pikir ini semua adalah hal kecil, saya sudah melupakannya.
Kejadian ketika saya berusia 6 tahun muncul waktu berkonsentrasi dan merasakan perubahan pada kepala dan alis. Kejadian yang tergambar ketika meditasi sama persis seperti kejadian yang dialami waktu itu. Sore hari, ibu saya memanggil dari halaman rumah ketika saya sedang bermain dengan teman-teman. Saat itu sekitar pukul 5 sore dan panggilannya menandakan bahwa saya harus mandi. Saya tahu, kalo ibu kesal karena beliau telah memanggil berkali-kali tetapi saya tidak segera datang. Ketika saya pulang ke rumah, dia mengambil saya ke kamar mandi dengan rasa kesal dan marah. Saya rasakan beliau memandikan dan membersihkan rambut saya dengan kasar, sehingga saya berkata udah, udah, udah. Saya menangis dan merasakan mata saya merah dan perih. (Mungkin inilah mengapa sampai sekarang saya sangat malas untuk keramas).
Pada saat berkonsentrasi dan merasakan perubahan pada dada, tergambar kejadian empat tahun yang lalu. Seperti biasa, jam 5 pagi saya berlari mengelilingi kota. Sesudah melewati perempatan, seorang pengendara motor mendekat dan mencoba memegang payudara saya dari sebelah kanan. Saya sangat marah sekali dan berpikir dia akan memperkosa. Saya merasa sangat dilecehkan dan berdoa agar laki-laki tersebut mendapatkan kecelakaan. Pada saat kejadian tersebut tergambar dalam meditasi, saya merasakan muka sangat panas, memerah dan napas menjadi sangat berat. Perasaan tersebut sama seperti waktu kejadian yang sebenarnya terjadi. Karena itulah saya sangat menyukai salah satu gaya dalam olahraga kesadaran yaitu membuka lengan ke kiri dan ke kanan dengan meninju. Gerakan tersebut menyimbolkan rasa marah dan keinginan saya untuk berkelahi dengan laki-laki tersebut.
Saya mendapatkan wasir setahun yang lalu. Sebelumnya, saya tidak bisa mengingat bagaimana penyakit ini bisa muncul karena makanan saya cukup baik, sejauh ini saya tidak pernah mengalami kesulitan untuk buang air besar dan saya berolahraga cukup. Sekali lagi, saya berkonsentrasi dan mersakan perubahan yang ada disekitar ambein/anus. Dan situasi setahun lalu muncul yaitu ketika saya harus membersihkan ambein/anus almarhumah ibu di rumah sakit dan melihat penderitaannya. Saya merasa sangat tidak berdaya dan bersalah. (sebenarnya sakitnya adalah leukimia). (Saya menangis selama meditasi sampai saya tidak lagi merasakan pegal dan sakit di kaki dan punggung yang biasanya menganggu meditasi).
Melakukan meditasi dihari ke-tiga dan ke-empat sulit dan menyakitkan, tetapi melakukan meditasi terbuka juga bukan sesuatu yang mudah. Dalam kenyataannya, sangat sulit. Ketika Pak Merta memberitahukan bahwa kita semua akan melakukan meditasi terbuka yaitu melalukannya sesuai dengan kemampuan masing-masing orang. Saya bersemangat dan dalam hati saya berkata saya bisa melakukannya selama 2 jam. Kepala saya mengangguk ketika beliau mengatakan ”INI BUKAN KOMPETISI”. Dan dalam hati saya berkata ’ya, ini bukan suatu pertandingan’. Kenyataannya, kata-kata tersebut telah menguasai saya untuk berkompetisi. Sepuluh menit pertama dan terakhir, pernyataan tersebut sangat kuat menggantung dikepala. Saya berusaha sangat keras untuk memusatkan pada napas dan perubahan yang ada di badan. Dan itu cukup berhasil sementara waktu. Tetapi setiap kali mendengar gerakan tubuh teman yang bangun menyelesaikan meditasinya, kepala saya berkata ”lihat, kamu menang”. Saya hampir frustasi karena sangat sulit sekali mengajak pikran untuk kembali. Untuk mengakhiri permainan ini, saya memutuskan untuk membiarkan diri saya kalah dan saya membuka mata. Saya lihat beberapa teman masih bermeditasi (antara 8-10 orang). Menyesal, cemburu dan kagum bercampur menjadi satu. Menyesal karena tidak bisa duduk lebih lama padahal teman-teman mampu melakukannya. Kagum karena saya mampu membiarkan diri saya kalah dalam permainan dengan suatu kesadaran.
Sampai saat ini, saya masih bertanya-tanya, kenapa Pak Merta mengucapkan kata-kata ajaib itu dan kenapa beliau membuat program meditasi terbuka. Mungkin, beliau ingin muridnya merasakan ambisi untuk selalu menajdi no.1. Menerima kemenangan dan kekalahan sebagai bagian dari hidup dan dengan kesadaran penuh kita merasakan keduanya. Resiko selalu ada ketika menang atau/dan kalah. Dan menurut saya, itulah salah satu tugas seorang guru: menempatkan muridnya dalam keadaan beresiko sehingga mereka bisa menemukan caranya sendiri untuk bertahan dalam kesehariannya secara sadar. (sharing dari Rima,peserta Tapabrata I/ Baturiti ) |