| - Mudita |
|
|
|
|
Mudita (Instruktur BU)
Sebagai peminat ilmu spiritual, ia mempunyai pemikiran bahwa membunuh adalah perbuatan dosa. Tetapi membiarkan istrinya melahirkan, kemudian meninggal karenanya, juga sama dosanya. Perasaannya sedih, pikirannya kacau menghadapi dilema, mirip dilema yang lazim digambarkan “bagai makan buah simalakama”. Kata-kata dokter terus terngiang, bahwa kehamilan itu tidak akan mungkin dilanjutkan. Setelah pulang dari Tanah Wuk, Mudita kemudian mengajak istrinya ke kantor Merta Ada di Sanur. Dia berkata pada istrinya: “Kita mencoba meminta pertolongan kepada Pak Merta Ada, seorang balian modern.” Berangkatlah pasangan suami istri ini ke Centre Bali Usada. Mereka bertemu langsung dengan Merta Ada. Hasilnya, “Jika dalam keadaan normal, kualitas kandungan adalah 80%, kandungan Ibu hanya 60%, tetapi tidak berbahaya.” Merta Ada bahkan mengatakan bahwa jenis kelamin sang janin perempuan, dan agar dipertahankan terus, hingga melahirkan. Sejak itu tahun 1994, Mudita berguru kepada Merta Ada, mempelajari ilmu Meditasi Kesehatan. Baginya meditasi bukanlah sesuatu hal yang baru. Jauh sebelumnya ia sudah mempelajarinya, tetapi hanya berupa meditasi “aliran kepercayaan”, melalui Ilmu Yoga Ananda Marga. Falsafahnya sesuai dengan ajaran Hindhu yaitu mencapai Moksha. Prinsipnya adalah ilmu yang mengajarkan jalan untuk mencapai kebahagiaan. Oleh karena itulah Mudita mengaku tertarik mempelajarinya. Ilmu yang telah dikuasainya ternyata tidak berseberangan dengan yang dipelajarinya dari Merta Ada. Di dalam mempelajari ilmu Yoga Ananda Marga tersebut, Mudita memang sengaja tidak memilih bagian-bagian yang sarat dengan mantram, karena tidak kuat menghafal. Kebetulan gurunya juga mengajarkan hal-hal seperti itu. Ia lebih banyak diajarkan menghayati hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, dan antara manusia dengan sesamanya. Bali usada memang tidak mau melibatkan diri dengan persoalan spiritualitas, dalam pengertian sektarian. Hal itu diserahkan sepenuhnya kepada yang bersangkutan sesuai dengan agama masing-masing. Karena itu Mudita melakoni terus Yoga Ananda Marga, dengan tujuan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Ternyata Merta Ada tidak pernah mempersoalkannya, dan ia memang tidak pernah melarang murid-muridnya menggabungkan ilmu, asalkan ketika berlatihnya tidak dicampur dan mereka merasa mendapatkan manfaat. Dengan menggabungkan kedua ilmu ini, Mudita mengaku memperoleh banyak manfaat. Paling tidak ia merasakan ada kemajuan dalam upaya memurnikan pikiran. Karena setiap muncul masalah dalam kehidupannya, ia lebih banyak mencari jawabannya dengan memperhatikan dan mengamati pikiran. “Pada awalnya saya menganggap manusia ini diperbudak oleh pikiran. Tetapi setelah mengikuti pelajaran pak Merta Ada, barulah saya menyadari bahwa keinginanlah yang memperbudak manusia. Akan sangat berbahaya jika keinginan bekerja sama dengan pikiran, artinya kalau semua keinginan dituruti oleh pikiran. Kalau pikiran tidak kuat, selalu memenuhi keinginan, maka muncullah penyakit. Keinginan yang selalu menggebu-gebu, harus dikontrol oleh pikiran yang tidak saja kuat tetapi juga harmonis, maka lama kelamaan, dia akan melemah.” |










Perkenalannya dengan Merta Ada hampir bersamaan dengan Koko, yakni ketika menghadiri ceramah meditasi di Tanah Wuk, di perkebunan cengkeh di punggung bukit, barat laut hutan pala Sangeh. Pada waktu itu ia mempunyai problem, yang bersumber dari vonis dokter bahwa istrinya mengidap penyakit jantung, karena itu tak boleh melahirkan, demi keselamatan. Padahal istrinya sedang mengandung. Apakah harus diambil jalan aborsi?