Home
Ternyata kok batu bisa hancur pakai nafas ! PDF Print E-mail

Jakarta, Cannossa 22 - 28 Agustus 1999

Saya Agus. Saya ini penuh dengan penyakit. Dulu saya tidak punya gangguan batu ginjal dan batu empedu. Tapi sekarang kok jadi timbul. Setelah dijelaskan oleh Pak Merta, ternyata stres dan banyak hal-hal lain memang bisa menimbulkan macam-macam penyakit. Saya sebenarnya ada kista di ginjal kiri pada tahun 1986. Saya sudah diberitahu oleh dokter Yapto P bahwa saya ada kista dan saya tanya “Kista itu apa sih?” Ada benjolan begini-begitu! Tapi saya tidak rasa apa-apa, kemudian saya ke dokter Sudiarta, ahli USG. Dan dinyatakan memang benar saya ada kista sebesar 4 senti. Kemudian ada kesempatan saya pergi ke Singapore. Saya cek lagi ternyata memang di Singapore kista saya diukur 3,8 X 3,9. Ya kira-kira 4 centi juga. Saya ditanya bagaimana rasanya. Ya saya rasa tidak ada apa-apa dan ini bisa diangkat nggak?..

Tidak bisa! Kalau mau diangkat, diangkat semua dengan ginjalnya. Wah, ginjal cuma dua diambil satu kan repot. Jadi tidak diambil, saya biarkan saja.

Bulan Agustus tahun yang lalu saya sudah belajar meditasi dibawah bimbingan Pak Merta. Saya rajin meditasi saat2 pertama dan biasanya malah sampai 2 jam. Ketika terus meditasi, saya tidak tahu hasilnya. Bulan Desember saya general check up. Wah, ini ada kabar yang gembira dan ada kabar yang ngrepotin. Yang gembira: di ginjal kiri ada kista, (ya saya tahu). “Berapa besar, Dok?” dijawab dokter “2 senti”! Padahal setelah saya cek pada banyak dokter, katanya kista itu cenderung membesar dan menjadi banyak. Kok katanya tinggal 2 senti? Yah, saya bersyukur! Pokoknya kista jadi kecil.

Dan ada penemuan lain, bahwa di empedu ada batu sebesar 4,5 mili. Di ginjal ada batu 7 mili. Waduh banyak amat! Belum lagi di jantung saya ada tumor menurut dokter. Tapi pak Merta sudah periksa, kelihatannya jinak dan saya tidak rasa apa-apa. Saya biarkan saja. Yah setelah kista mengecil itu, lalu saya tanya kepada pak Merta: ”Ada batu di ginjal dan di empedu, bagaimana?” Dan saya dikasi petunjuk jalannya begini-begini, lalu latihannya diarahkan seperti yang telah kita pelajari. Kemudian pikiran kita arahkan ke tempat yang sakit. Saya rajin mengikuti petunjuk itu. Apa yang terjadi, waktu saya cek lagi bulan Mei pada dokter Yapto P, batu di empedu kok sudah berantakan hancur. Saya sendiri tidak melihat karena layar TV-nya ada di samping. Istri saya yang lihat. Dokter bilang empedunya ada banyak batu. Yang saya tahu hanya ada satu. Katanya banyak. Banyak tapi halus-halus begitu. “Di ginjal juga ada, Dok.” “Ah yang ini bukan, ini cuma pengapuran kok!” Ya jadi dalam hal ini saya bersyukur. Ini keampuhannya meditasi.

Dengan pengalaman demikian saya kira sangat luar biasa mengenai meditasi kita ini. Ternyata kok batu bisa hancur pakai nafas! Lalu yang di ginjal kok bisa berantakan. Katanya bukan batu tapi hanya pengapuran. Tapi masih ada hal-hal lain yang saya harus cek lagi dan nanti medical report juga akan saya sampaikan kepada Pak Merta. Apakah bisa dimanfaatkan atau digunakan sebagai bukti-bukti daripada meditasi ini, saya serahkan saja kepada Pak Merta.   

Ini ada kejadian lain lagi hari ini. Kali ini sangat luar biasa, pinggang saya sakit, dan saya tidak minta tolong karena katanya sudah sembuh dari sakit 3 bulan yang lalu. Saya pakai balsem gosok, dan makan obat penahan sakit  Diurut kok masih sakit juga? Padahal saya sudah meditasi. Apa mungkin salah arah? Saya ingat tentang tulang-tulang, karena di Usada II diajarkan untuk mengarahkan konsentrasi ke tulang yang keras. Saya arahkan dari gigi terus ditelusuri ke bawah, dan tulang punggung dari depan. Ke paha kanan lalu kembali kemudian ke kiri terus naik ke atas lalu ke belakang. Nah, pada tulang belakang itu saya lihat ada ruas-ruas. Masing-masing ruas saya perhatikan. Tentu sambil doa, dan  perhatikan pernafasan. Setelah dua hari saya lakukan demikian, saya rasakan kok tidak sakit lagi! Saya kira pasti ini adalah ampuhnya dari meditasi tadi.

Jadi kali ini saya sangat gembira. Setelah beberapa bulan saya repot-repot ke dokter... Yah, memang telah terjadi sesuatu yang sangat menggembirakan saya dengan cara meditasi ini.

Terima kasih.

 

Agus

(Untuk menjaga privasi peserta, nama-nama yang ada dalam kesaksian ini telah kami ganti)