Home
Setelah didiagnosa terkena kanker PDF Print E-mail

Jakarta, Cannossa 22 - 28 Agustus 1999

Nama saya Nana Pratiwi. Saya menderita kanker lever. Ceritanya mungkin agak panjang. Tiga setengah tahun yang lalu pertama kali di diagnosa kanker. Dan itu sudah merupakan suatu pukulan yang cukup buat saya. Saya belum kenal dengan Pak Merta. Saya mencoba berkonsultasi dengan pemuka agama saja.

Apapun yang diajarkan pemuka agama saya waktu itu tidak jauh berbeda dengan apa yang Pak Merta ajarkan pada 7 hari 6 malam ini bahwa kita harus pasrah. Dan itu saya sudah coba terapkan selama tiga setengah tahun ini dan itu sudah banyak berubah. Dalam Islam itu, mungkin kita diberi suatu cobaan. Yang pertama harus kita lakukan adalah introspeksi pada diri kita, mungkin dosa kita terlalu banyak...

Saya sudah menjalani chemo-terapi 12 kali, sampai akhirnya bulan Mei yang lalu saya didiagnosa: "Kankernya sudah jalan-jalan ke lever". Iseng banget ini kanker. Ya Allah saya berusaha berdoa. Mungkin saya marah, ada nada marahnya. Ya, saya ingin sembuh, saya mau. "Saya mau" itu ternyata disini saya pelajari bahwa itu salah. Saya tidak boleh mau... saya harus pasrah hati. Tapi saya bilang kepada dokter: "Dok, apa yang mesti saya lakukan? Pengobatan apalagi yang bisa saya dapat?"

Dokter itu bilang: "Kondisi kamu buruk." Dan saya minta ijin kepada suami dan orang tua saya, bahwa kalau memang sudah waktu saya, saya ingin akhir hidup saya, dapat saya jalani dengan tenang. Saya ingin mencari ketenangan itu di mana? Saya tidak mau sakit dan saya tidak mau merasa sakit.
Chemo-terapi saya itu merupakan suatu trauma tersendiri buat saya.

Dan pada akhirnya saya ingat terus pada waktu latihan dengan Pak Merta tidak tuntas. Karena waktu itu bersamaan dengan waktu Pemilu. Ramai dengan kampanye dan lain-lain. Akhirnya saya ingat-ingat bahwa saya mau ke Pak Merta. Dan sekarang saya pikir kok saya hanya tergantung dengan
chemo-terapi. Itu menyakitkan, dan juga memerlukan biaya yang cukup berat. Dan kondisi yang saya rasakan pada waktu saya datang kesini itu semakin buruk. Pada waktu saya tidur kalau misalnya saya mau bangun, pasti saya harus diangkat oleh suami saya. Karena saya tidak bisa mengangkat kepala
saya, sakit sekali belakang kepala saya. Dan memang nyeri-nyeri betul. Kanker itu merupakan suatu nyeri yang saya tidak bisa dibayangkan. Menusuk rasanya, yang membuat saya tergantung dengan obat penahan rasa sakit dengan dosisi tinggi dan saya meminumnya 3 sampai 2 kali sehari.

Pada waktu saya minta ijin ikut Tapa Brata kepada suami saya. "Ya, kamu lakukanlah kalau kamu mau." Terus saya diantar dan Pak Merta mungkin masih ingat sore-sore itu saya dengan suami datang, dan suami saya bilang: "Dia masih sering kesakitan kalau malam". Pak Merta bilang, "Tidak apa-apa. Biar selama seminggu ada di sini."

Pada waktu malam pertama, sebelum meditasi, saya sempat bilang: "Pak, ini saya bawa obat sakit saya banyak. Ini saya apain?" Terus Pak Merta bilang, "Tidak usah dimakan dan nanti kalau sakit lapor saja! "Oke", saya bilang. Hari pertama saya latihan. Memang kalau di rumah saya itu, bisa dikatakan seperti ratu. Jangankan kerja yang berat, kerja yanag ringanpun tidak akan diijinkan. Orang-orang lihat saya bawa ember atau apa saja, maka keluarga saya lari cepat-cepat, karena tangan kanan saya tadinya kalau digerakkan itu lemas sekali. Tidak bisa digerakkan. Hari pertama berjalan enak, dan hari kedua olah raga. Saya semangat sekali, kemudian di hari ke-3 mungkin karena otot-otot saya kurang berolahraga, badan kurang bergerak, agak keram, ya, agak sakit. Saya lapor sama Pak Putu, "Pak Putu saya nyeri ini. Dia bilang,  "Rasakan saja! Itu kan energi buruknya keluar." Okelah! Saya bilang tidak apa-apa.Terus sore-sorenya saya lapor ke Pak Merta. Mungkin juga itu salah satu sifat buruk saya, iya, Pak. Kan saya tidak puas.

Kemudian Pak Merta mengatakan juga, "Dirasakan saja, karena itu merupakan energi buruknya keluar, dan nanti saya akan pantau pada waktu meditasi ke-2 nanti, saya coba kirimkan energi." Ya, pada waktu meditasi mungkin saya banyak kekurangannya karena pada waktu meditasi rasa sakitnya terus keluar. Langsung saya diam, semua tangan saya diam. Mungkin konsentrasi saya buyar.
Bayangkan juga, di sebelah saya ada Ibu Dian yang sering melirik saya kalau saya pucat dan keringatan. Lalu pada waktu meditasi, saya merasa ada sesuatu yang hangat, dan mungkin waktu itu Pak Merta mengirimkan energi buat saya. Kepada Pak Merta saya ucapkan terima kasih, dan sorenya saya merasa lebih enak. Malam juga lebih enak dan pada waktu mau tidur saya, masya Allah, saya
benar-benar tidak tahu betapa sakitnya, luar biasa! Saya sudah mau tidur klibak-klibuk "Aduh" saya pikir: "Aku bisa pingsan, nih!" Saya diam saja.

Sebelumnya mungkin perlu saya ceritakan latar belakang profesi saya sebelum saya sakit. Saya ini dokter. Kembali lagi pada situasi tadi. Saya melirik ke sekeliling kamar saya. Ada teman di sebelah saya. Dia kebetulan seumur dengan saya, dan mungkin kalau bahasa Jawa dibilang bahwa dia itu kebluk. "Kalau sudah tidur dia tidak bisa dibangunkan, kayaknya nyenyak banget. Saya tidak tega banget untuk bangunkan, karena enak banget tidurnya. Iya Pak. Dan saya sudah kesakitan, namun waktu itu juga malah saya terus berpikir, kesombongan saya sebagai dokter (itu saya akui kesalahan saya, ya pak) - saya menyimpan satu obat sakit waktu itu. Saya rasa ini sakit seperti yang kurasakan sudah sejak sebelum ikut meditasi. Karena aku dokter tahulah...lalu saya minum obat itu. Lalu besoknya agak enak lagi. Tapi lama-lama saya pikir, ya rugi dong lama-lama ikut Tapa Brata, saya tidak "merasakan" sakit. Tidak apa, ah, bodoh amat! Akhirnya terus saya rasakan ketika sakit datang. Lho kok malah tidak apa-apa. Barangkali Pak Merta paling bosan, karena mesti sering kirimkan energi pada saat kita meditasi. Saya merasa banyak sekali perbaikan.

Kadang-kadang saya merasa bingung. Waktu itu saya bingung begini. Pada waktu hari ke-6, itu kan sudah diajarkan meditasi cinta kasih. Itu yang mengobati luka-luka yang sudah kita buat pada waktu sebelum meditasi. Sehingga saya bangun itu saya langsung bisa loncat. Sebelumnya kalau saya bangun tidur itu biasanya saya harus dibantu. Pada saat hari kedua meditasi, kalau saya bangun itu saya harus miring dulu ya, baru bisa bangun. Tapi saat ini saya bisa langsung bangun begitu. Lho kok saya bisa begitu?

Ya, alhamdullilah saya bisa. Kemarin saya mencari2 sakit yang biasanya muncul, dan terus saya rasakan di payudara saya dan di lever saya. Mana nih, sakitnya, kok tidak ada? Terus terang sejak itu saya tidak pernah minum obat analgetik. Nah, itu mungkin yang sekarang paling bisa saya rasakan. Jadi saya lepas dari ketergantungan obat analgetik saya, yang pertama. Lalu yang kedua, dari ceramah-ceramah yang pak Merta sampaikan, saya dapatkan bahwa kita itu sebagai manusia yang hidup tentu banyak memiliki cobaan. Dan sikap pasrah aktif itu merupakan suatu hal yang buat saya sangat-sangat benar. Saya ingin ikut Tapa Brata lagi. Insya Allah, mungkin Februari dan tolong
saya diterima jangan saya ditolak.

Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan, dan barangkali pengalaman-pengalaman hidup tiga setengah tahun ini bukan membuat hidup saya menjadi lebih pesimis. Dan buat saya ini justru tiga setengah tahun membuat hidup saya yang terbaik. Karena hidup ini merupakan perjuangan yang
terberat.

Terima kasih

 

Nana Pratiwi 

(Untuk menjaga privasi peserta, nama-nama yang ada dalam kesaksian ini telah kami ganti)